Scratches On Notebook











{November 23, 2009}   Signature

cassandra mcaquila1

beberapa karya-karya abal~



{November 12, 2009}   Profile : Ryouji Asatori

Ryokushoku o Obita
Japanese Academy of Magic


 

[Nama Lengkap]: Ryouji Asatori

[Visualisasi]: Yamada Takayuki

[Nama Panggilan]: Ryou, Seichibi

[Tempat dan Tanggal Lahir]: Kagoshima, 20 Oktober 1985

[Kewarganegaraan]: Jepang

[Asrama]:

[Mahou no Tsue (Tongkat Sihir)]:

[Peliharaan]: Dua ekor ikan mas yang diberi nama Aki dan Haru (entah Aki dan Haru yang ke berapa karena tiap tahun pasti ikan-ikannya mati)

[Alat Transportasi yang Dibawa di Ryokubita]:

[Barang Elektronik yang Dibawa di Ryokubita]: MD

[Kegiatan yang Diikuti]: Klub Panahan pernah sampai ke kejuaraan perfektur

Latar Belakang Keluarga

[Nama Ayah]:
Shinosuke Asatori

[Nama Ibu]:
Satsuki Asatori (Satsuki Tateyama)

[Nama Saudara]:
Seichi Asatori – Kakak laki-laki

[Latar Belakang Keluarga]:
Keluarga intinya saat ini, sama sekali tidak memiliki bakat sihir. Keluarga terakhir yang memiliki bakat sihir dan pernah bersekolah di Ryokubita adalah kakek buyutnya. Lahir dalam keluarga yang sangat percaya hal-hal mistis. Berbeda dengan dirinya yang mampu melihat hantu dengan jelas, ayah dan kakaknya hanya bisa melihat hantu samar-samar.
Ayahnya memiliki beberapa toko olah raga yang diwarisi dari ayahnya dan mengurus salah satu tokonya yang paling dekat dengan rumah.
Sedangkan ibunya bekerja sebagai desainer interior.
Kakak laki-lakinya sangat populer, karena selain wajahnya yang tampan juga sangat jago dalam setiap hal yang di gelutinya. Selain itu, sikapnya pun sangat baik kepada siapapun. Beda usia: 3 tahun. Brother Complex, karena Ryouji memiliki kulit yang sangat sensitif yang akan memerah bahkan mengelupas jika terlalu banyak terkena sinar matahari.

Data Personal

[Tinggi / Berat]: 155 cm / 45 kg

[Golongan Darah]: AB

[Warna Mata]: Hazel

[Warna Rambut]: Asli hitam, tetapi dicat coklat.

[Warna Kulit]: Putih pucat, memerah jika terpapar sinar matahari

[Ciri khusus]:

[Personaliti Karakter]: Pendiam pada orang yang baru dikenal tapi sangat cerewet jika sudah akrab, cenderung menyendiri, sering tidak peduli pada lingkungannya, sering mengambil keputusan tanpa banyak berpikir, jika sedang kesal menjadi orang yang sangat menyebalkan.

[Bakat dan Kekurangan]:
Bakat:
– Panahan
– Menyelinap keluar rumah di malam hari
– Memasak makanan yang digoreng
Kekurangan:
– Tidak bisa berada di bawah sinar matahari dalam waktu yang lama

TRIVIA
– Kulitnya sangat sensitif yang membuatnya tidak bisa berada di bawah sinar matahari terlalu lama, sehingga pada musim panas pun tetap memakai seragam musim dingin. pada hari yang sangat panas justru memakai syal yang digunakan untuk menutupi sebagian wajahnya.
– Sangat sayang pada kakaknya, tetapi sangat kesal jika dibandingkan
– Seichibi adalah panggilan teman-temannya jika sedang mengejeknya singkatan dari seichi-chibi, karena wajahnya sangat mirip kakaknya namun dengan tubuh yang lebih kecil dan bakat yang lebih sedikit daripada kakaknya
– Sering disangka hantu jika berjalan di malam hari, karena kulit pucatnya

– Sering didatangi hantu yang ingin curhat



maaf kan mama ya, Ryou

 

ryouji-5ryouji-4ryouji-3RYOUJI-2ryouji-1



{November 12, 2009}   Profile : Cassandra Sylvie McAquila

[Nama — Panggilan]:Cassandra Sylvie McAquila — Cassie

[Visualisasi]: Marion Raven

[Status Darah]: Halfblood

[Tempat dan Tanggal Lahir]: Warwick, 20 Juli 1971

[Suku Bangsa Karakter]:Inggris

[Asrama]:Gryffindor

[Tahun Masuk Hogwarts]:1983

[Peliharaan]: Burung hantu elang warna hitam (Lucille) dan Kenazle (Raina)

[Tongkat sihir]: Holly 31,2 senti, inti pembuluh jantung Hungarian Horntail

[Sapu terbang]:

[Posisi di Tim Quidditch]:

Latar Belakang Keluarga

[Nama Ayah]: Alvin Theodore McAquila (Muggle)

[Nama Ibu]: Sylvie Challice McAquila (Pureblood)

[Nama Saudara]:

[Latar Belakang Keluarga]: Ibunya yang penyihir telah meninggal sejak Cassie berusia 3 tahun. Ibunya tidak pernah menyebut soal Hogwarts maupun sihir dan tetap merahasiakannya dari ayah Cassie. Kini tinggal bersama ayah muggle-nya yang bekerja sebagai satpam museum. Karena ayahnya lebih sering mendapat shift jaga malam hari, ia lebih dekat dengan babysitter-nya yang tak lain adalah tetangga depan rumahnya, Aunt Lilia. Meskipun demikian ayahnya mengganti ketidakhadirannya di malam hari dengan selalu memperhatikan kegiatannya di siang hari. Cassie sangat mendukung ayahnya menikah dengan Aunt Lilia yang ternyata adalah penyihir

Data Personal

[Personaliti Karakter]: Ceroboh, sering sekali jatuh atau menabrak sesuatu, ceria cenderung berisik, terkadang sangat keras kepala, sangat pelupa untuk hal-hal sehari-hari tapi punya ingatan bagus dalam pelajaran, tak pernah pikir panjang, tidak suka hal-hal horor, suka sekali binatang dan tanaman

[Bakat dan Kekurangan]: Pandai dalam herbologi, sedikit kesulitan dengan mantra dan transfigurasi, benci pelajaran ramuan

Keterangan Lain

– Telah diangkat menjadi pelayan dari Kim Andrew JoongBo



{November 3, 2009}   Memutus urat malu

muahhaha…coba-coba bikin siggy buat orang…

donna1damon2damon1smallasgardr1nabelle2NABELLE1AVA-DAMON-6||ava-damon-5||ava-damon-4||ava-damon-2||ava-damon1||ava damon 3



{November 2, 2009}   Siggy For my Beloved Cassie

Well, belajar photoshop cuma karena pengen bikin siggy…

Fiuh, terserahlah alesannya seperti apa, yang penting kan nambah ilmu…

jadi, inilah karya-karya saya

5thsiggy4thsiggy-small3rd-siggy-small2ndSiggy-smallcassandra mcaquila16thsiggy-small



{Oktober 26, 2009}   Profile: Zealwyn Zard

Personal Information
Nama : Zealwyn Zard
Lebih sering dikenal sebagai : Zee
Tanggal lahir : 6 November 1992
Umur : 16 y.o
Tinggi : 167 cm
Berat : 58 kg
Visualisasi : Seta Soujiro – Rurouni Kenshin
Deskripsi fisik : mata dan rambut hitam, kurus, terkesan ringkih, hanya memakai kacamata saat membaca.


Additional Information
Hobi : belajar (wakakakk)
Warna favorit : hijau
Makanan favorit : (tadinya) Apapun yang diberikan Kak Zya, kakak perempuan tirinya, (sekarang) Oatmeal buatan Leo
Minuman favorit : Susu coklat sebelum tidur
Lagu favorit :(saat ini) In the Middle of chaos – Gazzete
Hewan favorit : ga ada –tidak pernah diijinkan mempunyai peliharaan
Tumbuhan favorit :POhon willow tua di belakang rumah –sering dipanjat saat ingin bersembunyi.
Tempat favorit : Lemari pakaian
Yang ditakuti : Sepupu-sepupunya
Yang disukai : Suasana tenang pagi hari
Yang dibenci : Kak Zya, Ayahnya
Kemampuan khusus/keahlian :
Motto :
Rival :
Orang yang dikagumi :

 


Extra Addition
Personality and Behavior :
pelupa untuk hal-hal sehari-hari tapi pandai dalam pelajaran, ceroboh, sering meminta maaf pada apapun yang ditabraknya (benda mati sekalipun), lebih sering menerima keadaan begitu saja, sulit mengatakan ‘tidak’, sehingga menjadi sangat menyebalkan kalau sedang kesal, apalagi kalau meledak –bisa sangat lepas kendali.

 

Extra History :
Lahir sebagai anak haram dalam keluarga yang sangat berkecukupan. Ayahnya mengelola restoran yang telah memiliki beberapa cabang yang tersebar di seluruh negeri. Sedangkan ibu kandungnya adalah seorang guru SMP, ibunya meninggal sejak ia berumur 8 tahun. Karena tak memiliki keluarga lain, sang ayah membawanya masuk ke dalam keluarga inti.
Dari istri sahnya, sang ayah memiliki seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang keduanya berumur lebih tua dari Zee. Keduanya merupakan anak-anak pandai dan berbakat, sehingga Zee sering sekali dibanding-bandingkan dengan mereka, belum lagi siksaan-siksaan mental berupa ejekan, cacian, makian, untuk dirinya maupun ibu kandungnya yang telah meningal. Selain itu, sepupu-sepupunya sering melakukan siksaan-siksaan fisik ringan, memukul dan menendanginya kalau mereka sedang kesal, mengurungnya di gudang, menjegal kakinya saat Zee berjalan, merampas uang sakunya ketika berada di sekolah.
Ayah yang menyayanginya jarang berada di rumah sehingga orang yang dianggap sebagai pelindung adalah kakak perempuannya, meskipun saudara tiri ia memperlakukan Zee dengan sangat baik, membelanya jika ia melihat sepupu-sepupunya mengganggu adik tirinya itu. Hingga hari terakhir kelas satu SMU, Zee dipermalukan habis-habisan –ditelanjangi di sekolah, dan yang lebih menyakitkan ia akhirnya tahu bahwa selama ini kakak tirinya, orang yang selalu disayanginya, adalah dalang dibalik semua keisengan sepupu-sepupunya yang ia terima sejak ia masuk ke dalam keluarga inti. Kalap, ia menghajar sang kakak sampai babak belur.
Merengek dan memohon pada ayahnya –juga karena desakan keluarga yang lain—akhirnya ia diijinkan pindah sekolah, pindah kota, dan di sinilah ia berada di depan pintu masuk sebuah apartemen, mencoba melarikan diri dari kenyataan, mencoba memulai hidup baru bersama orang-orang baru yang mungkin sama sekali tidak mengenal latar belakangnya.

Special Note:

* Kidal

* Alergi kacang-kacangan

* Tidak terlalu suka makanan manis



{Oktober 23, 2009}   Café in the Corner of Autumn

Disclaimer : Saya cuma penyewa di Alloggio bukan pemiliknya. Leonard Ambrosio juga bukan punya saya, tapi punya PM-nya. Kalimat Leo yang saya kutip sudah dapat ijin dari yang punya. Karakter lain dan isi cerita kayaknya sih keluar dari kepala saya.

Characters : Zealwyn Zard (Zee), Leonard Ambrosio (Leo)

Rating: 13+

Genre: Romance

Warning: Yaoi (boys-boys love)

Café in the Corner of Autumn


Passed Pieces—Zee’s POV

Sudah musim gugur lagikah?

Selembar daun Maple yang menguning jatuh tepat ke kepalaku, hanya untuk bernasib sama seperti teman-temannya yang lain: diremas, lalu dibuang ke tepian jalan, tersapu hujan yang datang sesekali lalu terdekomposisi dan kembali menyatu dengan alam dalam bentuk yang berbeda, menjadi makanan bagi dirinya sendiri atau bagi tanaman lain. Sebagian bernasib lebih buruk—mungkin, dipetik saat ia belum sepenuhnya ingin gugur, dikeringkan saat ia belum seutuhnya layu, dan berakhir menjadi pajangan dalam kotak kaca, atau terselip dalam buku. Yah, aku juga tidak tahu pasti daun mana yang lebih beruntung, aku ini kan manusia, mana mengerti perasaan selembar daun. Bahkan apakah mereka memiliki perasaan aku tak pernah tahu.

Tch, apa kau anak kecil lihat-lihat, belum pernah lihat anak SMA membolos ya?

Ku langkahkan kaki cepat-cepat, menjauh dari sekolah. Jangan berpikir bahwa aku adalah anak nakal yang gemar melewatkan pelajaran di kelas, yang suka menghianati harapan orang tua mereka hanya demi bermain-main. Sama sekali bukan. Yah, aku tidak keberatan mengecewakan ayahku, toh aku membencinya, tapi membuang masa depan bukanlah pilihan yang menggiurkan. Ada alasan lain kenapa menginjakkan kaki ke tempat bernama sekolah cukup menakutkan.

Aku tidak perlu memberitahu apa alasannya kan?

Areal pertokoan yang ramai selalu menarik untuk di datangi, tidak terkecuali hari ini, saat aku ingin sejenak lari dari kewajibanku menuntut ilmu, dari kesadaran akan diriku yang lemah, yang selalu dikalahkan rasa takutku. Kepengecutanku. Dengan kepala penuh hal-hal buruk—entah kenapa aku tidak pernah bisa memikirkan sesuatu dari sudut pandang yang lebih baik—membiarkan sepasang jenjang berkejaran dengan ritme yang tetap, pelan, tak terburu. Tak ada hal yang perlu ku kejar. Hanya sekedar pilihan yang terlintas dibandingkan jika harus kembali ke apartemen.

Beberapa pasangan kekasih yang ku lewati hanya mendapatkan pandangan mencemooh dariku. Yah, walaupun aku tahu mereka takkan menyadarinya sama sekali. Aku tak habis pikir kenapa banyak sekali orang yang tertipu cinta. Dengan bodohnya menghabiskan waktu bersama seseorang yang pada akhirnya hanya akan meninggalkannya atau ditinggalkannya. Cinta itu omong kosong. Cinta tak bisa mengenyangkan perutmu yang lapar. Ah, jadi ingat kalau aku sedang lapar.

Sebuah Café kecil di sudut jalan, tujuanku saat ini. Bangunan batu bata merah yang terkesan tua, sederhana, namun selalu mampu mengusik rasa ingin tahu. Nampak cukup sepi dari luar. Wajar, karena saat sarapan telah berlalu dan waktu makan siang belum tiba. Mungkin aku hanya akan bertemu beberapa orang yang tengah menghabiskan sisa kopi mereka atau orang-orang tanpa kerjaan seperti aku yang sedang mencoba lari dari kenyataan.

Jduk!

Seperti yang biasa aku lakukan sebagai seorang yang ceroboh. Aku menabrak orang di pintu masuk. Seorang pemuda dengan surai hitam berantakan, serta dengan sepasang bening warna cokelat, Leo—nama itu akan ku ketahui dua hari kemudian, bukan hari ini—nampak sama sekali tak terganggu dengan yang baru saja terjadi. Sementara aku, terus merepet meminta maaf, hal yang selalu dan selalu saja ku lakukan.

“Hey bocah, kalau jalan perhatikan sekelilingmu!” pria yang jauh lebih tua—mungkin usianya dua atau tiga kali umur Leo—yang tengah melingkarkan tangannya di bahu Leo justru menegurku.

“Ah, sungguh maafkan aku,” entah yang ke berapa kali ku ucapkan pada dua sosok yang baru ku temui itu.

“Asatori-san sudahlah, toh aku tidak apa-apa,” pemuda pemilik manik cokelat menoleh pada pria asia di sebelahnya, “dan kau bocah, hentikan permintaan maafmu,” cengiran.

Aku hanya bisa mengatupkan bibirku menahan beberapa kata maaf yang terus saja ingin meluncur, sesuatu yang diakibatkan oleh aura yang mengelilingi pria asia, aura yang memberikan perasaan tidak enak, mengganjal, sama sekali tak nyaman untuk berada di dekatnya. Dan membiarkan dua sosok itu menghilang di telan keramaian.

Aku tak pernah tahu bahwa aku akan jatuh cinta pada salah satu di antaranya—perlukah ku beritahu yang mana?

***

“Aku tidak ingin bayaran darimu, Zee..”

“Yang kuinginkan adalah kau.”

“Adakah yang salah dari seorang pria yang jatuh cinta kepada sesamanya? Cinta tidak mengenal batasan apapun, kau tahu.”

“Cintailah aku, Zee. Jadikan diriku milikmu.”

“Aku pikir dengan begini aku akan melindungimu, ternyata aku salah, aku justru melukaimu”

***

Current Condition—Leo’s POV

Aku terbangun di sebuah kamar hotel bintang lima, lengan kekar dengan tato berupa sepasang sayap terkembang di dekat bahu mendekapku dalam pelukan. Kepalaku telah cukup jernih untuk dapat mengingat siapa pemilik lengan itu, Asatori-san, pemilik hotel ini sekaligus seseorang yang cukup berpengaruh dalam dunia gelap, dan sialnya dia adalah pelanggan tetapku. Yang selalu bersedia memberikan bayaran jauh lebih tinggi dari klien-klien lainnya. Dan meskipun aku selalu berusaha untuk tidak terlalu terikat dengan salah satu klien, aturan itu tak berlaku untuknya. Ia telah terlanjur mengikatku, dengan uang dan ancaman. Aku hanya menunggu ia bosan padaku, lalu mencampakkanku.

Perlahan kusingkirkan lengan itu, bergegas ke kamar mandi karena ada janji yang perlu ku tepati dalam rentang waktu satu jam ke depan. Kencan. Bukan dengan klien, tapi dengan sang pujaan. Seorang bocah lemah ceroboh yang selalu tampak manis saat malu-malu, sering bertingkah ketus—hanya—padaku, dan satu-satunya orang yang dapat membuatku tenang sekaligus merasa bersalah di saat yang bersamaan. Tenang karena aku tahu ada seseorang yang menyisihkan sedikit cinta untukku—meskipun sampai sekarang ia belum pernah mengucapkannya—dan merasa bersalah karena aku tak bisa menjadikannya satu-satunya untukku—ah, ia memang satu-satunya orang yang terpatri di hatiku, tapi pekerjaanku, seorang escort—

—tanpa aku menjelaskan lebih jauh, tiap orang akan langsung mengerti sumber rasa bersalahku, bukan?

Telah berpakaian lengkap, ringan ku giring langkahku menuju pintu, bayaran telah ku terima semalam. Sudah tak ada hutang piutang dengan sang ‘penyewa’ yang ku pikir masih terlelap. Hingga ketika gagang pintu telah ada dalam genggamanku, suara yang berat dan selalu memberikan perasaan tertekan terdengar.

“Kau mau ke mana, Leo?” sosok itu bangun dan menyandar pada kepala ranjang, “aku berubah pikiran, aku belum selesai denganmu, temani aku makan siang.”

“Maaf Asatori-san, aku tidak bisa, aku sudah punya janji dengan orang lain,” mencoba tersenyum.

Pria asia itu mengangkat sebelah alisnya, “Klien? Batalkan saja. Aku bisa membayarmu tiga, ah tidak lima kali lipat dari biasanya. Yah, sepuluh kali lipat pun aku tidak keberatan,” ia bangkit dan mulai melilitkan selimut di sekeliling pinggangnya.

Aku menggeleng pelan, “ini bukan soal uang.”

Hanya melihat pria itu mendekat sudah cukup untuk memacu jantungku berdetak beberapa kali lebih cepat, apalagi dengan tatapan dinginnya yang tak terputus kedipan, menembus jauh ke kedalaman bening, seolah dapat membaca apapun yang kupikirkan.

“Aku mendengar desas-desus bahwa kau memiliki kekasih,” jaraknya kini kurang dari selangkah dariku, “apakah dia—kekasihmu—yang ingin kau temui saat ini?”

“Bukan, sama sekali bukan,” aku tahu berbohong padanya tak ada gunanya, tapi tak ada salahnya mencoba.

Pria itu tersenyum, senyuman yang justru mempertegas betapa jahatnya dirinya. Betapa banyak akal licik yang ada di kepalanya. Senyuman yang justru membuat bulu kudukku berdiri. Ia tahu aku berbohong dan aku tahu aku akan mendapatkan hukuman atas kebohongan yang baru saja kuucapkan, itulah pesan yang kutangkap dari senyumannya.

“Pergilah dan akan kubuat kekasihmu menyesal karena telah mengenalmu,” kembali senyuman terukir.

Hilang kesabaran, kudorong tubuhnya ke dinding, wajah penuh amarah, “Kau takkan bisa bayangkan apa yang bisa kulakukan jika kau berani menyentuh Zee.”

Dengan mudah ia menepis kedua tanganku yang mencengkram bahunya, “Jadi, namanya Zee, eh?”

Fvck. Bodoh. Tolol. Kenapa aku justru menyebutkan namanya? Itu semua salahku jika sesuatu terjadi padanya.

Dengan wajah pucat aku mundur, aku tahu aku sudah kalah. Ku raih telepon genggamku, menelepon Zee, pada deringan pertama ia sudah mengangkatnya, nada ketus menyapa—sudah terlalu biasa aku mendengarnya. Saat ku katakan bahwa aku tak bisa datang, keheningan sempat tercipta, lalu helaan napas, dan berujar bahwa ia cukup beruntung karena bangun kesiangan, sehingga ia sama sekali belum menyiapkan diri untuk pergi ke tempat yang dijanjikan—setengah jam lagi aku akan tahu bahwa ia berbohong—tapi, saat ini, aku hanya menerima saja ucapannya.

Khas akhir musim gugur, matahari tak bersinar terlalu menyengat, cuaca yang disukai Zee, karena ia tidak terlalu mudah lelah. Dengan lengan kekar melingkar di sekeliling bahuku, kusamakan langkah menuju sebuah café, sebuah café kecil di sudut areal pertokoan, tempat seharusnya aku bertemu dengan Zee, tapi kini aku melangkah bersama orang lain, seorang klien yang terlalu mengendalikanku.

Jduk!

Seseorang menabrakku di pintu masuk. Tabrakan itu sendiri sama sekali tak terasa menyakitkan, dan hampir tidak membuatku terkejut. Justru ketika mataku beradu dengan sepasang bening sewarna malam, perasaan bagai tertusuk ribuan jarum menghujam jantungku, justru ketika sosok itu tak menunjukkan sedikitpun ekspresi penyesalan, tak sepatah pun ucapan maaf, jantungku berhenti memompa darah, paru-paruku langsung kehabisan udara, otakku berhenti berpikir. Jauh di dalam diriku, aku mati.

“Sepertinya aku mengenalimu, bocah,” suara berat Asatori-san memecahkan kesunyian di antara kami.

Bocah itu, Zee, hanya mengangguk lemah, sama sekali tak muncul raut amarah, kekesalan, pandangan menuduh, tak ada apapun di wajahnya, kemudian berlalu, meninggalkan aku yang masih mati.

“Hey bocah, tidak pernahkah orang tuamu mengajari sopan santun?” Asatori-san berteriak pada punggung Zee yang kini tersembunyi dalam kerumunan.

Aku selalu tahu bahwa dicampakkan akan terasa menyakitkan, tapi hanya satu orang yang bisa memberikan rasa sakit seperti ini—tak perlu kuberitahu siapa, kan?

***

“Aku tidak tahu apakah seseorang bisa mencintai orang lain jika ia tidak percaya pada cinta itu sendiri”

“Ajari aku.”

“Kadang aku merasa apa yang kita lakukan adalah suatu kesalahan.”

“Leo, aku tidak sekuat itu, kau tahu?”

“Aku akan mengucapkannya sekali saja, dengarkan baik-baik. Aku mencintaimu, Leo. Tapi, maaf, aku menyerah. Maaf.”

***

Future Figure—Normal POV

Hampir jam makan siang, Café itu terlihat ramai, hanya tersisa satu meja yang masih kosong, terletak berdampingan dengan sebuah meja di samping jendela yang kini dihuni oleh seorang pemuda. Rambut hitam, dengan manik hitam nampak berkilat di balik bening kaca matanya, Zee. Ya, ia bukan lagi seorang bocah. Memandang keluar jendela, memperhatikan beberapa helai daun Maple berjatuhan, orang-orang yang berlalu lalang, mencari satu sosok yang tengah di tunggunya.

Bel pintu café kembali bergemerincing, mengalihkan fokus Zee dari pemandangan di luar jendela. Sosok yang sudah sangat dikenalnya memasuki ruangan, pemuda dengan sepasang bening warna cokelat dan surai hitam yang selalu—SELALU—berantakan, Leo. Berjalan ke arah Zee, ralat, berjalan ke meja di samping meja yang di tempati Zee. Menarik satu kursi yang terletak berseberangan dengan kursi yang diduduki Zee, lalu duduk. Menunggu.

Zee mengangguk dan tersenyum padanya, hal serupa didapatnya sebagai respon. Selama beberapa menit, penghuni dua meja yang berbeda hanya saling berpandangan. Hingga dering telepon genggam membuat salah satu di antaranya memutuskan kontak mata. Leo bergumam pada seseorang di seberang telepon sana. Sedangkan Zee kembali berpaling pada hiruk pikuk di luar jendela.

Senyum lebar terkembang di wajah Zee ketika sebuah ketukan terdengar dari balik jendela. Seorang gadis dengan rambut ikal warna cokelat serta bening yang sewarna, tengah membuat gambar hati dengan uap napasnya di kaca jendela, lalu menambahkan huruf Z dan C di dalamnya. Zee dan Cassie. Tertawa tanpa suara, Zee membuat isyarat agar sang gadis segera masuk.

Pria berparas asia telah duduk menemani Leo, nampak sibuk memesan pada pelayan wanita yang tampak gugup berada di dekatnya. Dan Leo sesekali menganguk ketika pria itu menanyakan pendapatnya. Sepasang beningnya tak henti mencuri pandang pada pemuda di meja sebelahnya, yang nampak tersenyum menunggu seorang gadis untuk duduk di kursi kosong di hadapannya.

Mantan kekasih. Dua kata yang menjelaskan hubungan dua pemuda di dua meja yang berbeda, dengan kursi saling berseberangan. Tak perlu disebutkan siapa mereka kan?

***

“Bagaimana kuliahmu?”

“Biasa saja.”

“Kencan?”

“Ya.”

“Pacarmu cantik.”

“Terima Kasih.”

“Kau sudah lebih banyak tersenyum sekarang.”

“Mungkin karena aku sedang jatuh cinta.”

“Kau percaya cinta, eh?”

“Kau yang mengajariku, ingat?”

***

FIN



{September 21, 2009}   Just Trying

Dunno what to write.

Just wanna try another way to write some stories.



et cetera